Review Film The Great Flood: Ketika Banjir Bandang Berubah Jadi Labirin Sci-Fi yang Membingungkan
Jumat, 15 Mei 2026
Tulis Komentar
Apa yang ada di pikiran kalian saat mendengar judul film The Great Flood? Pasti langsung terbayang film bencana (disaster movie) klasik ala 2012 atau The Day After Tomorrow. Bumi tenggelam, manusia panik, lalu ada pahlawan yang menyelamatkan hari.
Namun, film orisinal Netflix asal Korea Selatan garapan sutradara Kim Byung-woo ini justru berbelok arah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit. Dibintangi oleh aktris berbakat Kim Da-mi dan aktor kawakan Park Hae-soo, The Great Flood bukan sekadar film tentang air bah. Film ini adalah sebuah eksperimen fiksi ilmiah (sci-fi) yang ambisius.
Yuk, kita bedah apa yang membuat film ini menarik sekaligus memicu perdebatan di kalangan penonton!
Sinopsis Singkat: Perjuangan di Hari Terakhir Bumi
Cerita diawali dengan situasi apokaliptik yang mencekam. Banjir global yang dahsyat melanda seluruh bumi, menyisakan kepunahan di depan mata. Di tengah kekacauan tersebut, fokus cerita menyempit pada sebuah gedung apartemen yang perlahan-lahan tenggelam.
Di dalam gedung itu, ada Gu An-na (Kim Da-mi), seorang peneliti cerdas yang terjebak bersama seorang anak kecil. Di sisi lain, muncul Hee-cho (Park Hae-soo), seorang pria misterius yang menjalankan misi penting untuk menyelamatkan mereka. Penonton awalnya disuguhkan ketegangan murni tentang bagaimana cara mereka bertahan hidup dari air yang terus naik.
Jika kalian mengira film ini hanya fokus pada aksi penyelamatan diri, kalian salah besar. Memasuki paruh kedua, The Great Flood mengambil belokan tajam ke ranah fiksi ilmiah spekulatif yang berat.
Film ini mulai mengenalkan konsep simulasi kecerdasan buatan (AI) dan pengunggahan kesadaran manusia. Kejadian-kejadian aneh seperti efek déjà vu yang dialami oleh karakter utama ternyata merupakan bagian dari skenario berulang. AI tersebut terus mengulang (reset) simulasi demi mencari satu formula tepat di mana An-na berhasil menyelamatkan anaknya sebelum bumi benar-benar musnah.
Pada akhirnya, penonton disadarkan pada kenyataan pahit: tidak ada fisik manusia yang selamat dari banjir tersebut. Manusia yang "hidup" di akhir film hanyalah versi digital berbentuk data di dalam memori AI.
Sisi Positif: Visual Ciamik dan Akting Jempolan
Sebagai film fiksi ilmiah berlatar bencana, aspek teknis film ini patut diacungi jempol.
- Visual yang Menegangkan: Penggambaran kota besar yang lumpuh dan interior apartemen yang perlahan terendam air disajikan dengan CGI yang solid dan atmosfer yang claustrophobic.
- Akting Berkelas: Kim Da-mi kembali membuktikan kualitas aktingnya sebagai seorang ibu sekaligus ilmuwan yang frustrasi. Chemistry tipisnya dengan Park Hae-soo juga berhasil menjaga intensitas film di paruh awal.
Sisi Minus: Ambisi Besar yang Setengah Matang
Meski konsep simulasi digital ini sangat brilian dan unik, eksekusinya memicu banyak kritik. Sutradara Kim Byung-woo tampaknya terlalu serakah ingin memasukkan banyak elemen sekaligus: drama keluarga, aksi bertahan hidup, etika sains, hingga konsep eksistensialisme.
Akibatnya, plot di paruh kedua terasa berantakan dan membingungkan bagi sebagian penonton. Perubahan fokus dari film survival yang menegangkan menjadi teka-teki fiksi ilmiah yang filosofis membuat emosi penonton yang sudah dibangun sejak awal menjadi agak hambar dan kurang menyentuh.
Kesimpulan: Layak Tonton atau Lewatkan?
The Great Flood adalah tontonan yang lumayan dan cocok untuk kalian yang menyukai film sci-fi yang bikin mikir keras seperti Inception atau serial Dark. Namun, jika kalian mencari film bencana murni yang penuh aksi ledakan dan penyelamatan heroik yang emosional, film ini mungkin akan membuat kalian kecewa.
Gimana menurut kalian? Apakah akhir ceritanya yang menyisakan manusia sebagai data digital itu jenius atau malah mengecewakan? Tulis pendapat kalian di kolom komentar, ya!

Belum ada Komentar untuk "Review Film The Great Flood: Ketika Banjir Bandang Berubah Jadi Labirin Sci-Fi yang Membingungkan"
Posting Komentar